Rekontekstualisasi Kontemporer Arsitektur Vernakular Di Studio Akanoma

Reinaldi Primanizar

Sari


Abstrak

Indonesia sebagai negara kepulauan terdiri dari berbagai masyarakat yang masing-masing memiliki tradisi yang berbeda-beda. Masing-masing tradisi mempunyai ciri khas dan keunikan yang terermin pada gaya arisitektur bangunannya. Bangunan-bangunan tradisional ini dikenal sebagai bangunan vernakular yang memadukan antara budaya masyarakat dengan unsur alam. Saat ini banyak dilakukan penggalian mengenai manfaat dan keindahan ragam tradisi. Keragaman tradisi vernakular dinilai dapat menjadi sumber gagasan atau ide dalam perancngan yang kemudian diproses dan diinterpretasikan kembali sebagai sebuah solusi arsitektural pada konteks kontemporer, salah satunya di lakukan pada disain Studio Akanoma. Tulisan ini bertujuan mengupas bagaimana khasanah arsitektur vernakular diterapkan pada Studio Akanoma direkontekstualisasi dalam dimensi waktu dan tempat yang berbeda. Paparan dilakukan dengan metoda deskriptif eksploratif. Studio Akanoma diidentifikasi melakukan proses transformasi dalam perancangan dengan meminjam dan mengkombinasikan konsep tradisi Indonesia dalam menyelesaikan isu kontemporer yang relevan. Hal ini dapat menjadi sebuah solusi disain yang baik yang dapat diikuti terutama oleh para Arsitek muda dengan mengangkat potensi dan keindahan dari beragam tradisi Indonesia serta menggabungkannya dengan gaya-gaya kontemporer kekinian. Diharapkan dengan penerapan konsep ini dapat menghasilkan disain yang menampilkan ciri khas spesific yang hanya dimiliki oleh para arsitek Indonesia sesuai dengan daerah asalnya.

Kata kunci: arsitektur kontemporer, arsitektur vernakular, rekontekstual, transformasi.

 

AbstraCT

Indonesia as an archipelagic country consists of various communities, each of which has different traditions. Each tradition has its characteristics and uniqueness which is reflected in the architectural style of the building. These traditional buildings are known as vernacular buildings that combine community culture with natural elements. Currently, many excavations are carried out regarding the benefits and beauty of various traditions. The diversity of vernacular traditions is considered to be a source of ideas or ideas in designs which are then processed and reinterpreted as an architectural solution in a contemporary context, one of which is done in the design of Studio Akanoma. This paper aims to explore how the repertoire of vernacular architecture applied to Studio Akanoma is recontextualized in different dimensions of time and place. Exposure is done by using the descriptive exploratory method. Studio Akanoma is identified as carrying out a transformation process in its design by borrowing and combining traditional Indonesian concepts in solving relevant contemporary issues. This can be a good design solution that can be followed, especially by young architects by highlighting the potential and beauty of various Indonesian traditions and combining them with contemporary styles. It is hoped that the application of this concept can produce designs that display specific characteristics that are only owned by Indonesian architects according to their area of origin.

Keywords: contemporary architecture, recontextual, transformation, vernacular architecture.

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


N. AlSayyad, The End of Tradition? New York: Routledge, 2004.

K. Frampton, “Towards a Critical Regionalism: Six Points for an Architecture of Resistance,” in The Anti-Aesthetic. Essays on Postmodern Culture, Seattle: Bay Press, 1983.

Paul Ricoeur, “Universal Civilization and National Culture,” in History and Truth, C. A. Kelbley, Ed. Evanston, 1965, pp. 276–277.

R. Prajudi, “Rekontekstualisasi Ruang-Ruang Arsitektur Klasi- Tradisional Nusantara Masa Kini,” Semin. 121212 Univ. Brawijaya, malang, 2012.

Jean-Paul Bourdier and N. AlSayyad, Dwellings, Settlements, and Tradition : Cross-cultural Perspectives. Lanham: University Press of America, 1989.

Charles Jencks, The Language of Post-Modern Architecture. Academy Editions, 1977.

E. Haddad, “Charles Jencks and the historiography of Post-Modernism,” J. Archit., vol. 14, no. 4, pp. 493–510, 2009.

S. Durmuş, “Change and Transformation in Architecture : On the Concept of Zeitgeist,” Gber, vol. 8, no. 1, pp. 23–36, 2012.

Suha Ozkan, “Regionalism within Modernism,” in Regionalism in Architecture, R. Powell, Ed. Singapore: Concept Media The Aga Khan Award for Archhecture, 1985.

M. Fry, H. Fathy, and F. Lloyd, “Regionalism within Modernism Suha Ozkan,” 1970.

A. Antoniades, Poetics Of Architecture : Theory of Design. Boston: Van Nostrand Reinhold, 1990.

I. Widiastuti, “Transformasi nilai-Nilai Tradisional dalam Arsitektur Masa kini Transformasi Makna pada Arsitektur Asli Daerah,” no. August, 2014.

D. Kustianingrum, O. Sonjaya, and Y. Ginanjar, “Kajian Pola Penataan Massa dan Tipologi Bentuk Bangunan Kampungan Adat Dukuh di Garut, Jawa Barat,” J. Online Inst. Teknol. Nas., vol. 1, no. 3, pp. 1–13, 2013.

M. Wijaya, Architecture of Bali. Singapore: Wijaya Words, 2002.

Yudistira Garna, “Pola Kampung dan Desa, Bentuk serta Organisasi Rumah Masyarakat Sunda,” Pus. Ilm. dan Pengemb. Reg., 1984.

N. Adhi and L. Widaningsih, “Kajian Pola Kampung dan Rumah Tinggal pada Arsitektur Tradisional Masyarakat Adat,” no. August 2013, 2013.

R. Prajudi, “Dialog Pengembangan Potensi Bentuk dan Ruang pada Arsitektur Tradisional Indonesia dengan Konteks Masa Kini dan Mendatang,” pp. 1–12, 2015.




DOI: https://doi.org/10.26760/terracotta.v3i2.6671

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.



ISSN elektronik 2716-4667 

Diterbitkan oleh :

Program Studi Arsitektur,  Institut Teknologi Nasional Bandung

Alamat :  Gedung 17 Lantai 1 Jl. PHH. Mustofa 23 Bandung 40124

Kontak : Tel. 7272215 (ext. 151)  Fax. 7202892

Email : terracotta@itenas.ac.id


Terindeks :

  


Didukung Oleh :

       


Kerja Sama :

aptari IAI-Jawa Barat



Jurnal ini terlisensi oleh Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Creative Commons License