Kajian Emisi Partikulat Dan Gas Dari Suatu Pertambangan Nikel Di Halmahera Tengah

Agung Ghani Kramawijaya

Sari


ABSTRAK
Nikel merupakan jenis logam yang sangat penting untuk infrastruktur modern, sehingga pencarian deposit nikel terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nikel di dunia. Indonesia merupakan negara dengan deposit nikel yang sangat besar, yaitu 16.200 kt nikel. Salah satu lokasi di Indonesia yang memiliki kandungan nikel adalah Halmahera Tengah. Bijih lateric yang mengandung nikel diangkat dari dalam bumi untuk diolah dan dihasilkan bijih nikel. Keberadaan pertambangan nikel memiliki berbagai dampak negatif terhadap lingkungan, salah satunya adalah penurunan kualitas udara akibat peningkatan konsentrasi pencemar udara. Berbagai jenis pencemar diemisikan dari kegiatan pertambangan, diantaranya adalah partikulat, NOx, SO2, SO3+H2SO4, debu nikel, dan H2S. Tingkat konstribusi pertambangan nikel terhadap pencemaran udara dapat dilihat dengan menghitung laju emisi dari kegiatan operasional pertambangan. Laju emisi dari pertambangan nikel dapat diperoleh melalui invetarisasi emisi. Kegiatan dan proses di pertambangan nikel yang berpotensi menjadi sumber emisi diidentifikasi terlebih dahulu dalam tahap pertama inventarisasi emisi. Selanjutnya, perhitungan emisi dilakukan berdasarkan ketersediaan data yang diperoleh. Faktor emisi yang dipilih dalam perhitungan emisi mempertimbangkan ketersediaan data. Emisi dihitung dengan mengalikan faktor emisi dengan data aktifitas. Berdasarkan hasil inventarisasi emisi, diketahui bahwa pencemar yang paling banyak dihasilkan oleh pertambangan nikel adalah partikulat dengan jumlah 35.173,96 ton. Sumber utama partikulat adalah pertambangan bijih dengan kontribusi sebesar 83%. Sementara itu, gas pencemar yang paling banyak diemisikan dari pertambangan nikel adalah SO2 dengan jumlah 8.392,61 ton. Sumber utama gas SO2 adalah pabrik asam dengan kontribusi sebesar 72%.

Kata Kunci
: inventarisasi emisi, pertambangan nikel, emisi gas, emisi partikulat

 


ABSTRACT
Nickel is one kind of a very important metal used for modern infrastructure, so the exploration of nickel deposits conducted continuesly to meet the needs of nickel around the world. Indonesia is a country with very large nickel deposits, ie 16,200 kt of nickel. One of the locations in Indonesia which has a nickel content is Central Halmahera. Lateric bijih containing nickel was mined from the earth to be processed and produced nickel bijih. Nickel mining has many negative environment impacts, one of them is air quality decrease due to increased concentration of air pollutants. Various types of pollutants are emitted from mining activities, such as particulates, NOx, SO2, SO3+H2SO4, nickel dust, and H2S. The contribution of air pollution from nickel mining can be found by estimate the emissions rate from mining operations. Emission rate of the nickel mining can be obtained through emission inventory. The emission source of the activities and processes in nickel mining has to be identified first in the first stages of emission inventory. Furthermore, the estimation of emissions is conducted based on the availability of obtained data. The chosen emission factor in the estimation of emissions considers the availability of data. Emissions are calculated by multiplying the emission factor with activity data. Based on the result of emission inventory, the most pollutants emitted from nickel mining is particulate. Total amount of particulate emission is 35,173.96 tonnes. Main source of particulate is ore mining with contribution of 83%. Meanwhile, the most emitted gas from nickel mining is SO2 with the amount of 8,392.61 tons.Main source of SO2 is acid plant with contribution of 72%.

Keywords: emission inventory, nickel mining, gas emission, particulate emission

 


Teks Lengkap: PDF

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


Visitor number: